“New Blue Chips”? Fenomena apa ini? Mungkin inilah respon pertama Anda saat membaca judul artikel ini.
Ada benarnya bahwa ini adalah sebuah penamaan baru terhadap peristiwa pasar, dan mungkin tidak akan ada ilmu bakunya juga. New Blue Chips itu sendiri sebenarnya termasuk dalam sector rotation dalam skala yang ekstrim hingga terjadinya saham-saham baru yang menduduki kelompok blue chips.
Hal ini sudah sempat dibocorkan pada tahun 2024 melalui Instagram story dari founder kami.
Pada awalnya, karena dianggap tidak masuk akal maka warning tersebut diabaikan, sampai akhirnya terbukti dengan pelemahan signifikan pada saham-saham penjaga IHSG yang selama ini diyakini dari sektor perbankan, khususnya big banks seperti BBCA BMRI BBNI dan BBRI. Keempat saham tersebut melemah, ditambah dengan beberapa saham grup besar seperti ASII dan TLKM yang juga memiliki bobot besar.
Bisa dibilang, jika bukan karena pertolongan dari saham konglomerat Prajogo Pangestu (BREN CUAN TPIA PTRO) dan Agung Sedayu (PANI), mungkin IHSG sudah babak belur lebih parah dari yang terjadi pada awal tahun 2025.

IHSG sempat mengalami rebound pada bulan April 2025, namun kemudian melemah lagi dengan terbentuknya pola double top.
Menarik bukan? Kalau dicari kembali beban terbesar IHSG, sepertinya Anda akan kembali mengatakan saham big banks sebagai “biang kerok” dari pelemahan ini. Misalnya pada saham BBRI.

Saham-saham big banks ini kompak memperlihatkan pelemahan yang mendekati lebel terendahnya pada awal tahun 2025. Berarti, 1 semester berlalu dan performa portofolio Anda yang berinvestasi pada saham-saham ini, mungkin tidak terasa atau malah mengecewakan (tergantung pada harga beli masing-masing).
Namun kesannya akan berbeda jika Anda komparasi dengan saham konglomerat yang sudah memiliki bobot besar terhadap IHSG, misalnya TPIA.
Tanpa perlu membahas pattern atau aspek lainnya, sepertinya melihat kasat mata saja sudah bisa langsung dapat perbedaannya yang mencolok. Dimana saham TPIA masih uptrend walaupun beberapa kali mengalami koreksi (sampai saat artikel ini dibuat), namun saham big banks sangat jelas terlihat pelemahannya.
Kembali ke topik, apa itu New Blue Chips?
Seperti penjelasan di awal, New Blue Chips adalah bagian dari rotasi sektor yang terjadi secara ekstrim sehingga menjadikan saham-saham tertentu yang digemari oleh pasar, mengalami kenaikan harga secara signifikan hingga menjadi kelompok blue chips baru.
Hal ini sebenarnya selalu terjadi dan bukan peristiwa khusus di tahun 2025 ini saja. Pada masa tertentu akan ada kenaikan minat pelaku pasar pada saham tertentu dan karena itu akan ada saham yang dulunya digemari untuk ditinggalkan. Misalnya, dulu kita pernah punya 3 saham blue chips unggulan untuk sektor consumer goods, UNVR HMSP dan GGRM.
Pada waktu dulu, pergerakan ketiga saham ini bisa mengubah arah IHSG lebih cepat dibanding berharap pada kekompakan 4 saham big banks di jaman sekarang. Namun sekarang ketiga saham ini seperti tidak ada artinya.
Anda mungkin akan segera berargumen, bahwa pelemahan ketiga saham tersebut tidak ada kaitannya dengan New Blue Chips melainkan karena penurunan kinerja. Oke, hal tersebut memang terkesan masuk akal, karena datanya sudah ada. Namun pelemahan sebelum adanya data laporan keuangan tersebut tidak pernah bisa dijelaskan. Alasan kinerja selalu datang dan dipakai sebagai jawaban yang memberikan kesan makes sense dalam perisitwa ini.
Sebenarnya, jika memang masalah kinerja saja, maka pelemahan harga secara signifikan sampai membuat saham tersebut dilupakan, tidak perlu terjadi. Buktinya, saham dengan kinerja keuangan yang buruk pun tetap bisa naik harganya, ini bukti bkuat bahwa pada akhirnya supply demand dan minat pelaku pasarlah yang menentukan. Sisanya hanya alasan yang dirangkai di kemudian waktu untuk membuat segalanya menjadi makes sense saja.
Selain dari 3 saham consumer goods tadi, pernah juga ada blue chips dari sektor property seperti WSKT WIKA PTPP ADHI SMRA CTRA dan BSDE. Sampai kemudian terjadi juga perubahan minat pelaku pasar dan membuat saham-saham ini dilupakan.
Pada waktu pandemi COVID 19, di tahun 2020 – 2021 juga sempat terjadi kelahiran blue chips baru. Dan Anda pasti familiar dengan nama saham ARTO, GOTO, BRIS, BUKA, dll yang intinya berhubungan dengan sektor teknologi yang pada waktu itu sangat diminati pelaku pasar. Namun lagi-lagi ketika minat tersebut hilang, popularitas saham tersebut hilang, maka harga sahamnya pun turun.
New Blue Chips selalu terjadi. Dan pada tahun 2025 ini, sepertinya akan lebih drastis efeknya karena-menurut kami-terjadi pada saham perbankan, yang mana sangat tidak diharapkan oleh pelaku pasar khususnya investor jangka panjang. Apa jadinya jika 4 saham penopang IHSG justru yang hancur duluan? Dan ditinggalkan secara total? Wah, bahaya sekali. Namun tolong jangan akhiri dulu bacaan Anda di sini, ada kabar baik dan beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.
Pertama, New Blue Chips, dalam prosesnya pasti “bikin rontok” semua harga saham dulu, ini karena diperlukannya dana oleh pelaku pasar besar (whale) untuk masuk ke saham baru, jadi jangan pusing dulu dengan pelemahan saham yang sedang Anda pegang.
Pada akhir dari proses New Blue Chips ini, akan ditemukan saham blue chips baru. Namun saham-saham yang sebelumnya ditinggalkan, apabila masih dianggap menarik oleh pelaku pasar, akan dibeli kembali dan harganya akan naik kembali.
Tugas Anda di dalam peristiwa New Blue Chips ini, adalah mencari saham apa yang berpotensi menjadi blue chips baru, dan mana yang mengalami distribusi terbesar untuk menjadi saham yang ditelantarkan oleh pasar.
New Blue Chips adalah fasilitas dari pasar modal, untuk mereka yang jeli dn bersedia mengikutinya, untuk menjadi orang kaya baru dari saham. Nikmati prosesnya.