
Sentimen perang AS – Iran diyakini merusak IHSG di kuartal pertama tahun 2026, sehingga pergerakan IHSG yang tadinya sudah sangat bagus sempat mencetak all time high pada tahun lalu pun berakhir kembali menurun di bawah level 8000. Saat artikel ini dirilis, IHSG ditutup pada level 7585.

Banyak yang meyakini bahwa pelemahan di bulan Januari, yang dimulai dari kesalahan BEI mengecewakan MSCI sudah selesai. “IHSG seharusnya sudah rebound“, katanya, namun sayangnya muncul kabar baru yaitu serangan AS – Israel terhadap Iran hingga menewaskan presiden Khamenei. Kabar ini diyakini sebagai penyebab mengapa IHSG melanjutkan pelemahannya. Sekarang, pertanyaan terbesarnya adalah, benarkah perang tersebut yang menjadi penekan IHSG? Artikel ini akan berisikan pendapat penulis dengan tujuan membantu Anda lebih mengerti situasi pasar terkini. Panik, itu wajar, siapa yang tidak panik dengan portofolio yang kebakaran? Namun, ketakutan berlebihan tidak akan pernah menolong Anda. Cobalah untuk mengerti garis besar permasalahannya dulu, mungkin dari situ Anda akan mulai mengerti harus mengambil keputusan seperti apa. Setuju? Mari kita lanjutkan.
Beberapa waktu terakhir penulis mempertanyakan satu hal saja: kok perang dunia, yang sudah memakan nyawa pemimpin negara, efeknya terhadap IHSG malah tidak seberapa dibanding MSCI dalam mode marah? Kita tahu bahwa sentimen MSCI sangat merusak pada masanya, dalam 2 hari IHSG sampai trading halt berkali-kali, dan itu baru sentimen dari kemarahan satu institusi saja. Namun peperangan, selain sudah memakan korban nyawa, juga berpotensi merusak perekonomian dunia, bahkan tidak terjadi halt sama sekali. Menurut penulis, dari tingkat bahayanya, tidak makes sense jika IHSG dibilang turun dengan fokus menyalahkan perang dunia. Pasti ada penyebab lain, namun untuk bisa membenarkan bantahan ini, penulis mencari kembali peristiwa sejarah, untuk mencari jawaban apakah IHSG selalu mendapatkan efek signifikan dari sentimen perang?
Kebetulan, selain perang AS – Iran ini, ternyata ada peperangan lain yang sudah berlangsung selama 4 tahun, dan masih ada sampai sekarang. Pernah heboh pada tahun 2022, namun IHSG seperti tidak ada efeknya sama sekali. Perang tersebut adalah perang antara Rusia – Ukraina.

Anda bisa membaca artikelnya lebih lengkap langsung di sumbernya, di sini.
Kemudian penulis berpikir kembali, kalau perang adalah sentimen negatif dan pasti ada efek negatif terhadap IHSG, kenapa perang yang satu ini, yang masih berlangsung, sepertinya tidak diperhatikan? Bahkan, IHSG sempat all time high pada tahun lalu. Buktinya? Mari kita lihat IHSG di tahun 2022.

Nampaknya, walaupun memang ada pelemahan sesekali, namun pergerakan IHSG tahun 2022 lebih ke sideways, dan yang paling mematahkan teori bahwa perang sama dengan sentimen negatif adalah, pada bulan Februari 2022, dimana perang Rusia – Ukraina ini mulai ramai dibahas, IHSG malah masih menguat. Jadi dimana korelasinya? Apakah karena perang yang satu ini tidak termasuk perang dunia? Atau karena sudah tidak ramai diberitakan lagi jadi pelaku pasar melupakannya dan menganggap perang ini tidak ada? Sepertinya itu lebih menjawab, karena sudah tidak ramai diberitakan/dibahas lagi maka awareness pelaku pasar pun redup.
Akhirnya, penulis merasa pertanyaan besar ini terjawab sudah: perang BUKAN penyebab utama IHSG kita terus melemah di bulan Maret 2026. Namun penulis tidak membantah bahwa ada efek terhadap gejolak harga komoditas seperti emas, minyak, dan batu bara. Hal ini memang selalu terjadi ketika adanya ketidakpastian pada kondisi global. Pelaku pasar masih memiliki kecenderungan untuk mengikuti kekhawatiran akan krisis energi dan investasi pada aset safe haven.
Kemudian, sebenarnya masalah utama IHSG sejak awal tahun 2026 itu tidak berubah, masih seputar MSCI yang menunggu tranparansi data. Namun, sayangnya di saat MSCI sendiri sudah tidak melakukan apapun yang menjadi penekan IHSG, justru muncul penekan baru: downgrade.

Berita lengkapnya bisa Anda cek langsung di sumbernya, di sini.
Sudah jatuh ketimpa tangga, inilah kondisi IHSG sekarang. Dengan adanya downgrade, maka Indonesia akan kehilangan faktor kelayakannya sebagai target investasi, belum lagi masih ada urusan dengan MSCI yang belum selesai. Kita masih menunggu apakah urusan ini berakhir dengan skema yang bagus, atau apakah setelah ini MSCI akan mengocok ulang perhitungan pembobotannya terhadap saham Indonesia. Maka siap-siap saja, Anda yang selama ini bertaruh pada MSCI, mungkin harus beradaptasi lagi dengan mereka, karena kriteria sahamnya bisa mengalami perubahan di waktu yang akan datang.
Kesimpulan penulis: kalau perang dikambinghitamkan, rasanya kebangetan, faktanya, masih ada dosa BEI yang belum beres yang jadi penyebab utama IHSG melemah di awal tahun ini. Belum lagi downgrade demi downgrade yang terus berdatangan menambah outflow dari IHSG. Hasilnya? Ya lihat sendiri, portofolio Anda pun mulai tergerus bersamaan dengan penurunan harga saham-saham itu.
Namun ada hal menarik dari peristiwa ini, tentang bagaimana analisis teknikal masih bisa membaca pergerakan IHSG khususnya pada penurunan di bulan Januari 2026. Penulis mencoba menerapkan indikator Fibonacci pada grafik IHSG dan hasilnya, lihat di bawah:

Siapa sangka, MSCI membatasi kemarahannya hanya pada rasio 0.5 pada Fibonacci? Ini artinya IHSG masih dalam tren menguat, karena dalam indikator ini posisi IHSG masih di area golden ratio-nya. Jadi sebenarnya, dari sini kita sudah bisa menemukan dua hal: pertama, menyalahkan perang sebagai biang kerok IHSG adalah kesalahan, kedua, IHSG masih uptrend.
Ya, masih uptrend, ini mungkin ungkapan yang terdengar gila untuk Anda yang portonya sedang merah merona, namun penulis akan bicara apa adanya. Masih ada harapan yang cukup terbuka di IHSG kita. Misalnya, ketika perang AS dengan siapapun nanti asal bukan Indonesia, sudah jarang diberitakan, maka pelaku pasar akan bersikap sama seperti perang Rusia – Ukraina yang sebenarnya masih ada namun dilupakan. Kedua, setelah BEI selesai beres-beres dan bisa mendapat kepercayaan institusi asing lagi, maka outflow yang sudah terjadi ini akan berbalik, akan mulai inflow lagi. Tentunya ini perlu waktu, namun Anda bisa memanfaatkan waktu tunggu itu untuk mulai koleksi saham sesuai selera masing-masing. Nanti kalau sudah waktunya, Anda yang bebas untuk jualan di harga tinggi. Ubah kebiasaan kejar harga atas dengan kejar harga bawah, mumpung kesempatannya lagi ada!
Semoga ulasan ini bermanfaat, salam.